Arti cinta sesungguhnya

Friday, 10 July 2009 | Labels: | 0 comments |

siapa yang bisa mengartikan cinta?

Mereka Yang Tidak Menyukainya Menyebutnya Tanggung Jawab,
Mereka Yang Bermain Dengannya, Menyebutnya Sebuah Permainan,

Mereka Yang Tidak Memilikinya, Menyebutnya Sebuah Impian,

Mereka Yang Mencintai, Menyebutnya Takdir.

hmmmm....
Kadang Tuhan Yang Mengetahui Yang Terbaik, Akan Memberi Kesusahan Untuk Menguji Kita
Kadang Ia pun Melukai Hati, Supaya Hikmat-Nya Bisa Tertanam Dalam.

Jika Kita Kehilangan Cinta, Maka Pasti Ada Alasan DiBaliknya.

Alasan Yang Kadang Sulit Untuk Dimengerti,

Namun Kita Tetap Harus Percaya Bahwa Ketika Ia Mengambil Sesuatu, Ia
Telah Siap Memberi Yang Lebih Baik.


Mengapa harus Menunggu?

Karena Walaupun Kita Ingin Mengambil Keputusan, Kita Tidak Ingin
Tergesa-Gesa.

Karena Walaupun Kita Ingin Cepat-Cepat, Kita Tidak Ingin Sembrono.

Karena Walaupun Kita Ingin Segera Menemukan Orang Yang Kita Cintai,


Jika Ingin Berlari, Belajarlah Berjalan Duhulu,

Jika Ingin Berenang, Belajarlah Mengapung Dahulu,

Jika Ingin Dicintai, Belajarlah Mencintai Dahulu.


Pada Akhirnya, Lebih Baik Menunggu Orang Yang Kita Inginkan, Ketimbang
Memilih Apa Yang Ada.

Tetap Lebih Baik Menunggu Orang Yang Kita Cintai, Ketimbang Memuaskan
diri Dengan Apa Yang Ada.

Tetap Lebih Baik Menunggu Orang Yang Tepat,

Karena Hidup Ini Terlampau Singkat Untuk Dilewatkan. Bersama Pilihan
Yang Salah,


Karena Menunggu Mempunyai Tujuan Yang Mulia Dan Misterius.

Perlu Kau Ketahui Bahwa Bunga Tidak Mekar Dalam Waktu Semalam,

Kota Roma Tidak Dibangun Dalam Sehari,

Kehidupan Dirajut Dalam Rahim Selama Sembilan Bulan,

Cinta Yang Agung Terus Bertumbuh Selama Kehidupan.

Kebanyakan Hal Yang Indah Dalam Hidup Memerlukan Waktu Yang Lama,

Dan Penantian Kita Tidaklah Sia-Sia.


Walaupun Menunggu Membutuhkan Banyak Hal - Iman, Keberanian, Dan
Pengharapan Penantian Menjanjikan Satu Hal Yang Tidak Dapat Seorangpun Bayangkan Pada Akhirnya. Tuhan Dalam Segala Hikmat-Nya, Meminta Kita Menunggu, Karena Alasan Yang Penting.

optimisme dan pesimisme

| Labels: | 0 comments |

BUKAN OPTIMIS, BUKAN PULA PESIMIS

Kacamata Optimis memandang kue donat dan mengabaikan lubangnya. Sedangkan Kacamata Pesimis hanya melihat lubang dan menyingkirkan donatnya.
Padahal, kenyataannya adalah, sebuah kue donat tersaji di depan anda, lengkap dengan lubangnya. Optimis atau Pesimis hanya sebuah alat bantu dalam memandang dunia ini.

Apa pun yang anda pilih, bukanlah realita yang sedang terpampang.
Bahkan, ia takkan mengubah realita itu.
Pandangan anda mengubah diri anda sendiri.
Ia mempengaruhi langkah anda.
Ia memberikan pilihan-pilihan bagi anda: dunia yang terang, ataukah buram. Adakalanya kita perlu meluruhkan kacamata itu dan memandang begitu saja tanpa setitik pemikiran; memandang apa adanya; memandang sepolos mungkin.
Maka akan anda temukan suatu dunia yang benar-benar baru lahir.
Sebuah dunia yang tak memberati pilihan anda dengan kecemasan dan harapan.
Bahkan ia tak perlu memberikan pilihan apa-apa.

SALAH PAHAM ART KESUKSESAN

Wednesday, 8 July 2009 | Labels: | 0 comments |

Kesalahpahaman 1

Beberapa orang tidak bisa sukses karena latar belakang, pendidikan, dan lain-lain.
Padahal, setiap orang dapat meraih keberhasilan. Ini hanya bagaimana mereka menginginkannya, kemudian melakukan sesuatu untuk mencapainya.


Kesalahpahaman 2

Orang-orang yang sukses tidak melakukan kesalahan.
Padahal, orang-orang sukses itu justru melakukan kesalahan sebagaimana kita semua pernah lakukan Namun, mereka tidak melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya.


Kesalahpahaman 3

Agar sukses, kita harus bekerja lebih dari 60 jam (70, 80, 90...) seminggu.
Padahal, persoalannya bukan terletak pada lamanya anda bekerja. Tetapi bagaimana anda dapat melakukan sesuatu yang benar.


Kesalahpahaman 4

Anda hanya bisa sukses bila bermain sesuatu dengan aturan.
Padahal, siapakah yang membuat aturan itu? Setiap situasi membutuhkan cara yang berbeda. Kadang-kadang kita memang harus mengikuti aturan, tetapi disaat lain andalah yang membuat aturan itu.


Kesalahpahaman 5

Jika anda selalu meminta bantuan, anda tidak sukses.
Padahal, sukses jarang sekali terjadi di saat-saat vakum. Justru, dengan mengakui dan menghargai bantuan orang lain dapat membantukeberhasilan anda. Dan, sesungguhnya ada banyak sekali orang semacam itu.


Kesalahpahaman 6

Diperlukan banyak keberuntungan untuk sukses.
Padahal, hanya dibutuhkan sedikit keberuntungan. Namun, diperlukan banyak kerja keras, kecerdasan, pengetahuan, dan penerapan.


Kesalahpahaman 7

Sukses adalah bila anda mendapatkan banyak uang.
Padahal, uang hanya satu saja dari begitu banyak keuntungan yang diberikan oleh kesuksesan. Uang pun bukan jaminan kesuksesan anda.


Kesalahpahaman 8

Sukses adalah bila semua orang mengakuinya.
Padahal, anda mungkin dapat meraih lebih banyak orang dan pengakuan dari orang lain atas apa yang anda lakukan. Tetapi, meskipun hanya anda sendiri yang mengetahuinya, anda tetaplah sukses.


Kesalahpahaman 9

Sukses adalah tujuan.
Padahal, sukses lebih dari sekedar anda bisa meraih tujuan dan goal anda. Katakan bahwa anda menginginkan keberhasilan, maka ajukan pertanyaan "atas hal apa?"


Kesalahpahaman 10

Saya sukses bila kesulitan saya berakhir.
Padahal, anda mungkin sukses, tapi anda bukan Tuhan. Anda tetap harus melalui jalan yang naik turun sebagaimana anda alami dimasa-masa lalu. Nikmati saja apa yang telah anda raih dan hidup setiap hari sebagaimana adanya.

DIANTARA KUNCI HIDUP YANG BAHAGIA

| Labels: | 0 comments |

Apakah rahasia hidup yang bahagia itu? Banyak orang yang
mengidentikkan kebahagiaan dengan segala sesuatu yang berada di luar
kita, seperti harta benda yang kita miliki. Apakah Anda akan
berbahagia jika mempunyai rumah yang indah, mobil mewah, penghasilan
yang berlimpah, dan pasangan hidup dan anak-anak yang tampan dan
cantik? Mungkin Anda akan mengatakan ''ya.'' Tapi, percayalah itu
tidak akan berlangsung lama.

Kebahagiaan yang disebabkan hal-hal di luar kita adalah kebahagiaan
semu. Kebahagiaan itu akan segera hilang begitu Anda berhasil
memiliki barang tersebut. Anda melihat kawan Anda membeli mobil
mewah, handphone yang canggih, atau sekadar baju baru. Anda begitu
ingin memilikinya.

Anehnya, begitu Anda berhasil memilikinya, rasa bahagia itu segera
hilang. Anda merasa biasa-biasa saja. Bahkan, Anda mulai melirik
orang lain yang memiliki barang yang lebih bagus lagi daripada yang
Anda miliki. Anda kembali berangan-angan untuk memilikinya.
Demikianlah seterusnya. Dan Anda tidak akan pernah bahagia.

Budha Gautama pernah mengatakan, ''Keinginan-keinginan yang ada pada
manusia-lah yang seringkali menjauhkan manusia dari kebahagiaan.'' Ia
benar. Kebahagiaan adalah sebuah kondisi tanpa syarat. Anda tidak
perlu memiliki apapun untuk berbahagia. Ini adalah sesuatu yang sudah
Anda putuskan dari awal.

Coba katakan pada diri Anda sendiri, ''Saya sudah memilih untuk
bahagia apapun yang akan terjadi.'' Anda akan merasa bahagia walaupun
tidak memiliki harta yang banyak, walaupun kondisi di luar tidak
sesuai dengan keinginan Anda. Semua itu tidak akan mengganggu karena
Anda tidak menempatkan kebahagiaan Anda disana.

Kebahagiaan yang hakiki terletak di dalam diri Anda sendiri. Inti
kebahagiaan ada pada pikiran Anda. Ubahlah cara Anda berpikir dan
Anda akan segera mendapatkan kebahagiaan dan ketentraman batin.
Ada tiga pikiran yang perlu senantiasa Anda tumbuhkan. Saya
mendapatkan gagasan mengenai tiga kunci kebahagiaan ini setelah
merenungkan arti tasbih, tahmid dan takbir yang kita ucapkan tiap
hari tapi sering tanpa makna yang mendalam. Saya kira ajaran seperti
ini bukan hanya kita temukan dalam Islam saja, tetapi juga dalam
ajaran agama yang lain.

Kunci pertama kebahagiaan adalah rela memaafkan. Coba renungkan kata
subhanallah. Tuhanlah yang Maha Suci, sementara manusia adalah tempat
kesalahan dan kealpaan. Kesempurnaan manusia justru terletak pada
ketidaksempurnaannya. Dengan memahami konsep ini, hati Anda akan
selalu terbuka untuk memaafkan orang lain.

Seorang dokter terkenal Gerarld Jampolsky menemukan bahwa sebagian
besar masalah yang kita hadapi dalam hidup bersumber dari
ketidakmampuan kita untuk memaafkan orang lain. Ia bahkan mendirikan
sebuah pusat penyembuhan terkemuka di Amerika yang hanya menggunakan
satu metode tunggal yaitu, rela memaafkan!

Kunci kedua adalah bersyukur. Coba renungkan kata alhamdulillah.
Orang yang bahagia adalah orang yang senantiasa mengucapkan
alhamdulillah dalam situasi apapun. Ini seperti cerita seorang petani
miskin yang kehilangan kuda satu-satunya. Orang-orang di desanya amat
prihatin terhadap kejadian itu, namun ia hanya mengatakan,
alhamdulillah.

Seminggu kemudian kuda tersebut kembali ke rumahnya sambil membawa
serombongan kuda liar. Petani itu mendadak menjadi orang kaya. Orang-
orang di desanya berduyun-duyun mengucapkan selamat kepadanya, namun
ia hanya berkata, alhamdulillah.

Tak lama kemudian petani ini kembali mendapat musibah. Anaknya yang
berusaha menjinakkan seekor kuda liar terjatuh sehingga patah
kakinya. Orang-orang desa merasa amat prihatin, tapi sang petani
hanya mengatakan, alhamdulillah. Ternyata seminggu kemudian tentara
masuk ke desa itu untuk mencari para pemuda untuk wajib militer.
Semua pemuda diboyong keluar desa kecuali anak sang petani karena
kakinya patah. Melihat hal itu si petani hanya berkata singkat,
alhamdulillah.
Cerita itu sangat inspiratif karena dapat menunjukkan kepada kita
bahwa apa yang kelihatannya baik, belum tentu baik. Sebaliknya, apa
yang kelihatan buruk belum tentu buruk. Orang yang bersyukur tidak
terganggu dengan apa yang ada di luar karena ia selalu menerima apa
saja yang ia hadapi.

Kunci ketiga kebahagiaan adalah tidak membesar-besarkan hal-hal
kecil. Coba renungkan kalimat Allahu akbar. Anda akan merasa bahwa
hanya Tuhanlah yang Maha Besar dan banyak hal-hal yang kita pusingkan
setiap hari sebenarnya adalah masalah-masalah kecil. Masalah-masalah
ini bahkan tidak akan pernah kita ingat lagi satu tahun dari
sekarang.

Penelitian mengenai stres menunjukkan adanya beberapa hal yang
merupakan penyebab terbesar stres, seperti kematian orang yang kita
cintai, kecelakaan lalu lintas, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini
bolehlah Anda anggap sebagai hal yang ''agak besar.'' Tapi, bukankah
hal-hal ini hanya kita alami sekali-sekali dan pada waktu-waktu
tertentu? Kenyataannya, kebanyakan hal-hal yang kita pusingkan dalam
hidup sebenarnya hanyalah masalah-masalah kecil.