anaku .. jika aku sudah menua

Wednesday, 12 August 2009 | Labels: | 0 comments |

Kalau aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.
Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku.
Kalau pakaianku terciprat sup, kalau aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.
Kalau aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, janganlah memutus pembicaraanku. Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tertidur.
Kalau aku memerlukanmu untuk memandikanku, janganlah marah padaku. Ingatlah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu mandi?
Kalau aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru, jangan mengejekku. Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap "mengapa" darimu.
Kalau aku tak dapat berjalan, ulurkanlah tanganmu yang masih kuat untuk memapahku. Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.
Kalau aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat. Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau disamping mendengarkan, aku sudah sangat puas.
Kalau kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka. Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu mulai belajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini,Sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.
Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga untukmu

berbuat baik sama orang tua

| Labels: | 0 comments |

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى
وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ
الْمَصِيرُ*

"Dan Kami perintahkan Kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu
bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yanq
bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku
dan kepada dua ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu" (Q.S. Luqman: 14)


Istilah birrul walidain adalah istilah yang dipakai Rasulullah SAW sebagai
disebutkan oleh sahabat Abdullah bin Mas'ud ketika seorang bertanya kepada
Rasulullah saw. tentang amalan apa yang paling disukai oleh Allah SWT.
"Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman Abdullah ibnu Mas'ud r.a.,dia berkata, "Aku
bertanya kepada Nabi SAW, "apa amalan yang paling disukai oleh Allah SWT ?"
Beliau menjawab, "shalat tepat pada waktunya", Aku bertanya lagi, "kemudian
apa ?" Beliau menjawab, "birrul walidain". Kemudian aku bertanya lagi,
"seterusnya apa ?" Beliau menjawab, "jihad fi sabilillah" (Muttat'aqun
'Alaih)

Birrul walidain terdiri dan kata al birrul artinya kebajikan dan al
walidain artinya dua orang tua atau ayah bunda. Maka, birrul walidain maknanya
berbuat kebajikan kepada kedua orangtua atau berbuat ihsan sesuai dengan
diperintahkan Allah SWT di dalam surah Al Ahqaf ayat 15 : "Kami wajibkan
kepada umat manusia supaya berbuat kebaikan (ihsan) kepada dua orang ayah
bundanya".

Sahabat Abu Umamah r.a. mengisahkan, bahwa seseorang bertanya kepada
Rasulullah SAW. mengenai peranan kedua orang tua, yang dijawab oleh
Rasulullah SAW, "Mereka (kedua orang tua) adalah yang menyebabkan surgamu
atau nerakamu" (HR. Ibnu Majah).

Sebuah riwayat yang shahih ketika Muawiyah suatu ketika mendatangi
Rasulullah SAW memohonkan agar dapat ikut berjihad bersama beliau ke medan
juang, maka Rasulullah SAW bertanya kepadanya apakah ibunya masih hidup.
Muawiyah rnenjawab bahwa ibunya masih hidup. Rasulullah SAW kemudian
bersabda, "kembalilah ke rumah dan layani ibumu, karena sorga berada di
bawah telapak kakinya" (HR. lbnu Majah dan Nasa'i)*

Di antara perintah Allah mengenai birrul walidain terdapat di dalam surah
Al Isra' ayat 23 –24. Manakala diperhatikan firman Allah dalam ayat ini
dapat diambil beberapa hal pokok. Pertama, hak dan kedudukan orang tua (ayah
bunda) di dalam Islam memiliki kedudukan yang mulia, langsung berada di
bawah hak-hak Allah SWT. Alquran berulang kali memerintahkan berperilaku
menyenangkan, patuh berbakti kepada ayah bunda.

Selanjutnya, apabila kedua ayah bunda sudah berusia lanjut, sikap dan
perasaan mereka cepat berubah, seperti menjadi mudah tersinggung, suka marah
dan cepat bersedih hati, karena ketuaan usia mereka. Maka kepada anak-anak
mereka diperintahkan agar melihat perubahan perilaku ayah bunda yang sudah
tua renta itu sebagai suatu yang lumrah dan mesti diterima dengan selalu
menampakkan rasa kasih sayang yang tulus sebagai buah dari keluhuran budi
mukmin yang bertaqwa.

Dalam usia lanjut itu, kedua orang tua (ayah bunda) amat mengharapkan kasih
dari anak-anak mereka yang sudah mereka besarkan sedari kecil. Maka
anak-anak mereka dituntut patuh dan senantiasa menyayangi kedua ayah bunda
sebagaimana kasinh sayang kedua orang tua mereka ketika mereka masih
anak-kecil.

Kepada anak-anak dituntut bersikap rendah hati, sopan, dan patuh terhadap
orang tua. Dalam usia ayah bunda sudah lanjut, hendaknya anak-anak
rnelayaninya dengan penuh kepatuhan, semata-mata bersyukur kepada Allah SWT
karena mendapatkan kesempatan melayani orangtua di usia lanjut. Mestinya
disadari bahwa perjalanan hidup anak banyak bergantung kepada kedua
orangtua, walaupun kedua ayah bunda telah merawatnya penuh perhatian dengan
menanggung berbagai penderitaan.

Maka birrul walidain menempati kedudukan istemewa dalam ajaran Islam.
Perintah ihsan kepada ayah bunda ditempatkan oleh Allah SWT di dalam Alquran
sesudah perintah beribadah kepada Allah dan sesudah larangan
menyekutukan-Nya. "Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya
dengan esuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak wabil
waalidaini ihsanan… (Q.S. An Al Isra': 36)

Allah telah menetapkan perintah berterima kasih kepada ayah bunda sesudah
perintah bersyukur kepada Allah SWT. "Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua
orang ibu bapakmu. (Q.S. Luqman:14)

Kemudian, Baginda Rasulullah SAW mengaitkan keridhaan Allah SWT bertalian
dengan keridhaan ayah bunda, sesuai sabda beliau, "Keridhaan Rabb (Allah)
ada pada keridhaan orangtua, dan kemarahan Rabb (Allah) ada pada kemarahan
orang tua" (HR. At Tirmidzi). Demikian pula, Rasulullah SAW meletakkan 'uququl
walidain (durhaka kepada dua orang ibu bapak) sebagai dosa besar sesudah al
isyraaku billah (syirik).

Maka di dalam mengamalkan ibadah-ibadah di dalam bulan Ramadhan khususnya,
dan juga pada setiap saat, janganlah dilalaikan untuk berdoa bagi
keselamatan dan kesejahteraan kedua ayah bunda, agar Allah SWT menurunkan
rahmatnya untuk kita semua.

Wassalamu'alaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh,