Karena kau tulang rusukku...
Tuesday, 14 July 2009 | Labels: Karena kau tulang rusukku... | |Karena kau tulang rusukku...
Sebuah senja yang sempurna,
sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut. Adakah yang lebih indah
dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih? Raka dan Dara duduk
di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas,
lalu Dara pun memulai meminta kepastian. ya, tentang cinta.
Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
Raka : Kamu dong?
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?
Raka
: (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti) Kamu tulang
rusukku! Ada
tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam
tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria
mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya,
tidak lagi merasakan sakit di hati."
Setelah menikah, Dara dan Raka
mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan
muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan
hidup yang kain mendera. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan
hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu
sama lain.
Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai
menjadi semakin panas. Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran,
Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak,
"Kamu nggak cinta lagi sama aku!"
Raka sangat membenci
ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak, "Aku menyesal
kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!"
Tiba-tiba Dara
menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah.
Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar.
Raka
menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang telah
tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali.
Dengan
berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil
barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. "Kalau aku bukan tulang
rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan
sejati masing-masing."
Lima tahun
berlalu.
Raka tidak menikah
lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Dara. Dara pernah ke
luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke
kota semula.
Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Dara, merasa
kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk kembali, Dara tak
menunggunya.
Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum
kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup
mengakui bahwa dia merindukan Dara.
Suatu hari, mereka akhirnya
kembali bertemu. Di airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan
dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas,
mata mereka tak saling mau lepas.
Raka : Apa kabar?
Dara : Baik... ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York
dengan penerbangan berikut.
Raka
: Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu
tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang
berubah.
Dara tersenyum manis, lalu berlalu.
"Good bye...."
Seminggu
kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati. Malam
itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di
dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara, tulang
rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.
"Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita
cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal"
Hikmah :
Istri
pendamping setia yang ada di sisi kita adalah Tulang rusuk kita, justru
yang kita cintai. namun sadarkah kita "Kita melampiaskan 99% kemarahan
justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali
adalah fatal"
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan bergaullah kalian (para suami) dengan mereka (para istri) secara patut.”
(An-Nisa`: 19)
Al-Hafizh
Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat di atas menyatakan:
“Yakni perindah ucapan kalian terhadap mereka (para istri) dan perbagus
perbuatan serta penampilan kalian sesuai kemampuan. Sebagaimana engkau
menyukai bila ia (istri) berbuat demikian, maka engkau (semestinya)
juga berbuat yang sama. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam hal
ini:
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan para istri memiliki hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara
yang ma’ruf.” (Al-Baqarah: 228)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri telah bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ
“Sebaik-baik
kalian adalah yang paling baik terhadap keluarga (istri)nya. Dan aku
adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluarga
(istri)ku.”2 (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 2/173)
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللهُ فِيهِ
خَيْرًا كَثِيرًا
“Kemudian
bila kalian tidak menyukai mereka maka bersabarlah karena mungkin
kalian tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan
yang banyak.” (An-Nisa`: 19)
Dalam tafsir Al-Jami’ li Ahkamil Qur`an
(5/65), Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala: فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ (“Kemudian bila kalian
tidak menyukai mereka”), dikarenakan parasnya yang buruk atau
perangainya yang jelek, bukan karena si istri berbuat keji dan nusyuz,
maka disenangi (dianjurkan) (bagi si suami) untuk bersabar menanggung
kekurangan tersebut. Mudah-mudahan hal itu mendatangkan rizki berupa
anak-anak yang shalih yang diperoleh dari istri tersebut.”
Al-Hafizh
Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Yakni mudah-mudahan kesabaran kalian
dengan tetap menahan mereka (para istri dalam ikatan pernikahan),
sementara kalian tidak menyukai mereka, akan menjadi kebaikan yang
banyak bagi kalian di dunia dan di akhirat. Sebagaimana perkataan Ibnu
‘Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang ayat ini: ‘Si suami mengasihani
(menaruh iba) istri (yang tidak disukainya) hingga Allah Subhanahu wa
Ta'ala berikan rizki kepadanya berupa anak dari istri tersebut dan pada
anak itu ada kebaikan yang banyak’.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/173)
Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا
آخَرَ
“Janganlah
seorang mukmin membenci seorang mukminah, jika ia tidak suka satu
tabiat/perangainya maka (bisa jadi) ia ridha (senang) dengan
tabiat/perangainya yang lain.” (HR. Muslim no. 1469)
Al-Imam
An-Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan larangan (untuk
membenci), yakni sepantasnya seorang suami tidak membenci istrinya.
Karena bila ia menemukan pada istrinya satu perangai yang tidak ia
sukai, namun di sisi lain ia bisa dapatkan perangai yang disenanginya
pada si istri. Misalnya istrinya tidak baik perilakunya, tetapi ia
seorang yang beragama, atau berparas cantik, atau menjaga kehormatan
diri, atau bersikap lemah lembut dan halus padanya, atau yang
semisalnya.” (Al-Minhaj, 10/58)